Info Sekolah
Mail Instagram
Profile Sekolah

Menghormati Hak Anak



MENGHORMATI HAK ANAK

Bagaimana sikap Rosulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ( SAW )
terhadap anak-anak ?
Secara ringkas, saat bercanda sebagai teman,
saat bertutur sebagai guru,
dan terhadap hak anak, Rasulullah SAW menjadi pelindung dan penjaga.

Melalui tindakan dan ucapannya, rasulullah Muhammad mengajarkan kepada kita bagai mana menghormati hak anak. Barang kali inilah yang membuat anak - anak di masa Rasulullah SAW mudah menerima kebenaran, ringan mendengarakan nasehat dan ketika dewasa tidak sibuk mendahulukan hak. Mereka bersegera mendahulukan kewajiban karena di masa kecil mereka selalu di jaga haknya.

marilah kita ingat peristiwa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.Dari Sahl bin Sa'ad RA, Rasulullah SAW pernah di suguhi minuman. Beliau meminumnya sedikit. Disebelah kanan beliau ada seorang bocah dan disebelah kiri beliau duduk para orang tua. Beliau bertanya kepada si anak, “ Apakah engkau rela minuman ini aku berikan kepada mereka ?” Si anak menjawan, “ Aku tidak rela, ya Rasul Allah, demi Allah aku tidak akan memperkenankan siapa pun merebut bagianku darimu,” Rasulullah SAW meletakkan minuman itu ke tangan anak kecil tersebut.

Pelajaran apa yang bisa kita petik adari Hadits ini? “ Rasulallah SAW memelihara hak si anak dengan menyuguhkan minuman terlebih dahulu kepadanya karena ia berada di samping kanan beliau,” Kata Najib Khalid Al –Amr menuturkan dalam Min Asaalibir Rasul SAW Fit Tarbiyah.

“ini adalah bentuk pendidikan yang menjadikan anak seakan berada dalam jajaran jajaran para orang tua dari segi perolehan hak. Ketika anak telah merasa mengambil haknya, perasaan cintanya kepada Rasulullah SAW akan bertambah dan keimanan kepada risalah beliau akan semakin kokoh,”Kata najib Khalid Al – ‘Amr seraya menambahkan,” dari sinilah potensi kreativitasnya akan berkembang dalam naungan dakwah beliau.”

Cara bersikap seperti ni membuata anak merasa berharga. Ia memiliki citra diri yang baik. Tidak menganggap dirinya buruk, tidak pula memandang orang dewasa dan lingkungan pada umumnya sebagai sumber kektakutan. Selanjutnya, anak akan memiliki konsep diri yang positif sehingga mampu mengembangkan potensinya secara optimal. Rasa percaya diri yang sangat besar, sering kali di tentukan oleh seberapa baik anak memperoleh perlakuan dari orang tua. Bukan apa yang ia miliki untuk ditunjukkan kepada orang lain.

Mencintai Tanpa Syarat
Alfie Kohn, seorang pesikolog sekaligus penulis buku Unconditional Parenting, menunjukkan bahwacinta yang tulus lebih efektif untuk mengasuh, mengarahkan , mendidik, danmendorong anak untuk lebih bertangung jawab. Jika anda ingin anak – anak lebih hormat kepada anda beserta apa yang anda katakan, tumbuhkanlah kepercayaan mereka kepada anda. Caranya ? cintailah mereka sepenuh hati dengan tulus, tanpa syarat.
Selain itu, anak – anak akan memperhatiakan kata – kata anda. Jika anda berbohong kepadanya, anak tidak akan percaya kepada setiap perkataan anda. Sekalipun itu nasehat yang palaing baik. Padahal tanpa kepercayaan bagaimana mungkin anak – anak akan tergerak untuk melakukan apa yang kita inginkan?
Di sinilah kita bisa memahami mengapa rasulullah SAW sangat menekankan agar kita mencintai anak – anak tnpa syarat, menepati janji,tidak berbohong, dan adil terhadap mereka. Bagaimana anak – anak kita mengimani Tuhannya kelak, sangat dipengaruhi oleh cara kita memperlakukan mereka di waktu kecil.
Ingatlah ketika Rasulullah SAW bersabda,” Cintailah anak – anak dan kasih sayangilah mereka. Bila menjanjika sesuatu kepada mereka tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui, hanya kamulah yang memberi mereka rizki,”( riwayat Bukhari).
Selain tentang seruan untuk melimpahkan cinta dan kasih saying kepada anak, ada dua hal yang perlu kita renugkan dari hadits tersebut. Pertama, berkait dengan sabda Nabi SAW, “ Sesungguhnya yang mereka ketahuai hanya kamula yang memberi rizki.” Ini mengingatkan saya pada teori pesikologi agama yang menunjukana bahwa keyakinan bukan pengetahuan kepada Tuhan sangat di pengaruhi oleh pengalaman anak berhubungan dengan orang tua. Mereka memiliki orang rua pelit,tidak konsisten dan tidak memiliki prinsip dalam mengsuh anak, cenderung menjadi pribadi yang sulit membangun keyayakinan sangat kuta terhadap sifat pemurah Allah Ta’ala meskipun pengetahuan tentanga hal tersebut sangat luas. Wallahu a’lam bishawab.
Kedua ,menepati janji. Inimerupakan bagian dari berkata dengan perkataan yang benar (qaulan sadiida). Inilah salah satu dari dua kunci mendidik anak yang ditunjukkan oleh Allah ‘Azza wa jalla dalam al- Qur’an surat An- Nisaa’ ayat 9, Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT ) berfirman,”Dan hendaklah takut kepada Allah orang – orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak – anak yeng lemah,yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
Bagaimana kalau kita melakukan hal – hal yang kurang baik ? jika kita benar - benar berusaha untuk selalu berkata jujur kepada anak, sementara kita tidak ingin menjadi contoh yang buruk bagi mereka. Maka insya Allah kejujuran akan menununtun kita untuk berbenah. Ada dorongan dari dalam diri kita untuk terus memperbaiki diri agar bisa menjadi contoh yang layak bagi mereka. Kalau tidak, kita akan menghadapi dua kemungkinan .
Pertama, lidah kita kelu ketika berbicara kebaikan dan kebenaran kepada anak di sebabkan dua hal tersebut tidak melekat pada diri kita.
Kedua,kita berbohong kepada mereka untuk menutupi keburukan, sehingga kita justru melanggar apa yang telah di perintahkan oleh Allah Ta’ala dalam Surat An – Nisaa’ ayat 9. Padahal berkata yang jujur ( qaulan sadiida) merupakan kunci untuk melahirkan generasi yang kuat dan tidak menghawatirkan. Wallahu a’lam bishawab.
Inilah diantara hikmah berbicara engan perkataan yang benar kepada anak. Secara keseluruhan, berbicara yang benar akan membawa kita pada kebaikan. Allah ‘azza wa jalla akan membaguskan amal – amal kita dan mengampuni dosa kita. Allah Ta’ala berfirman,” Hai orang – orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan – amalanmu dan mengampuni bagimu dosa – dosamu Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul- Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”
( Qs. Al – Ahzab [33] : 70 -71).
Jika berkai dengan tugas kita sebagai orangtua, kesungguhan untuk berkata yang benar akan mendorong kita terus berbenah, sehingga kapasitas pribadi kita sebagai orangtua akan lebih baik dari waktu ke waktu.
Selebihnya, saya hanya ingin mengaris bawahi tentang betap pentingnya anak – anak memperoleh pengalaman bagaimana hak-haknya dimuliakan, dijaga dan dipenuhi oleh orangtua. Ada amanah yang harus kita pertanggung jawabkan kelak di Yaumil Qiyamah, termasuk bagaimana menghormati hak yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya bagi anak- anak kita. Wallahu a’lam bishawab |Hidayatullah Kolom Parenting: Fauzil Adhim Maret 09 | Mr Jai |

0 komentar:

Posting Komentar