Info Sekolah
Mail Instagram
Profile Sekolah

Mengasuh dan Mengajarkan Anak dengan Positive Parenting

Semua orang tua pasti ingin anak-anaknya tumbuh dengan baik. Cakap, pintar, cerdas, percaya diri, mudah bergaul, kreatif dan segudang nilai-nilai positif lainnya. Tetapi, mewujudkan keinginan mulia seperti poin-poin tersebut gampang-gampang susah. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang gagal mengawal masa keemasan buah hatinya, sehingga pertumbuhan mereka kurang baik. Tidak percaya diri, sulit bergaul, malah cenderung bersifat destruktif.

Kunci pentingnya memang terletak pada keluarga. Paling tidak, begitulah menurut Dornan dan Maxwell. Menurutnya kebiasaan berpikir positif, lingkungan positif, afirmasi positif merupakan faktor penting dalam membangun sikap positif (Dornan dan Maxwell, 1996, Strategi Menuju Sukses. Georgia: Network Twenty One, 1998).

Pakar lain, Berk (1993: 25-28) menyatakan bahwa individu berkembang dan dibentuk lingkungan, diawali pemikiran dan kerja dengan diri sendiri (microsystem), selanjutnya lingkungan keluarga, teman sepermainan, tetangga dekat (mesosystem). Berikutnya lagi meluas ke keluarga besarnya, tetangga jauh (exosystem). Dan yang terakhir adalah nilai, hukum, kebiasaan (macrosystem).

Sekali lagi, kuncinya terletak pada keluarga. Keluarga bisa menjadi penentu paling besar bagi munculnya nilai-nilai positif pada anak. Nilai-nilai yang mereka anut memengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku, berkenaan dengan tabiat dan budi pekerti. Ini juga yang menentukan bagaimana bentuk kontribusi seseorang terhadap dirinya, keluarganya, lingkungannya, terhadap bangsa bahkan dunia . Bila seseorang berwatak positif, maka energi positif pulalah yang disalurkan ke lingkungan sekitarnya, demikian pula sebaliknya. Karena itu, di kalangan pakar, pemikir maupun konsultan tentang keluarga, dikenal istilah Positive Parenting. Secara harfiah, istilah tersebut bermakna: menjalankan tugas kita sebagai orang tua, baik mengasuh, membesarkan maupun mendidik anak-anak secara positif.

Kini, sudah banyak sekali penulis yang mengkonsentrasikan diri pada tema-tema keluarga. Di Indonesia, penulis yang cukup produktif mengulas masalah-masalah seputar anak dan keluarga adalah Mohammad Fauzil Adhim, sarjana psikologi lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, yang sejak muda memang aktif menyebarkan ide-ide dan buah pemikirannya. Selain buku berjudul “Positive Parenting”, ia juga telah menulis buku-buku laris lainnya dengan seperti “Membuat Anak Gila Membaca” (penerbit Al-Bayan, 2004). Saat menyelesaikan buku Positive Parenting ia sudah dikaruniai empat orang anak, dan dia mempunyai obsesi yang besar: ia ingin anak-anaknya menjadi generasi pilihan yang cemerlang hidupnya, tajam pikirannya, jernih hatinya, kukuh jiwanya, dan kuat imannya. Cara mencapai obsesi itulahyang banyak ia paparkan di bukunya yang berjudul Positive Parenting.

Positive Parenting
Fauzil Adhim memaknai positive parenting sebagai upaya menjalankan tugas ke-orangtua-an (parenting), yakni mengasuh, membesarkan, dan mendidik mereka agar bukan saja tidak mematikan segala kebaikan mereka. Lebih dari itu, kita malah harus bisa merangsang inisiatif-inisiatif mereka, mendorong semangat mereka, menunjukkan penerimaan yang tulus dan memberi perhatian yang hangat atas setiap kebaikan yang mereka lakukan. Kita perlu mengembangkan inisiatif positif dan melakukan pendekatan yang positif.

Enam Poin Penting
Secara sederhana, positive parenting menurut Fauzil Adhim meliputi beberapa bagian. Pertama, konsep dasar yang melandasi. Kedua, sikap dasar yang perlu kita miliki dalam menerapkan positive parenting. Ketiga, prinsip-prinsip penting menjadi orang tua yang positif. Dan yang keempat, strategi mengasuh anak secara positif agar membangkitkan potensi-potensi positif mereka; kecerdasan intelektual mereka, emosi mereka dan juga dorongan moralistik-idealistik mereka yang bersumber pada bercahayanya kekuatan ruhiyah mereka.

Ulasannya sangat sederhana dan mudah dipahami. Sebagai penulis, ia banyak menyelipkan hasil pengamatannya terhadap lingkungan, maupun proses dan dampak yang terjadi pada anak-anaknya sendiri. Berikut ini beberapa poin-poin menarik positive parenting yang dapat menjadi pertimbangan kita:

1. Persepsi orang tua terhadap anak. Yang paling awal musti diluruskan tiap orang tua adalah persepsi mereka tentang anak-anak mereka. Bahwa anak-anak kita akan hidup pada masa yang akan datang. Merekalah generasi penerus, sehingga perlu bekal yang kuat, modal yang banyak, bimbingan yang tepat agar mereka bisa menjadi pribadi-pribadi yang berguna bagi lingkungan, masyarakat, negara, bahkan dunianya. Secara khusus, orientasi masa depan yang disampaikan Fauzil Adhim, tidak hanya sampai urusan dunia saja. Melainkan juga sampai ke urusan akhirat. Maksudnya, orang tua juga harus memikirkan dan membimbing pemenuhan kebutuhan religi anak-anak mereka.

2. Bangkitkan semangat. Setiap orang tua harus selalu menjaga agar anak-anak mereka tidak menjadi anak yang pesimis. Caranya, bangkitkanlah semangat mereka setiap saat. Dengan kata lain, orang tua tidak boleh hanya menjamin tersedianya asupan untuk fisiknya seperti makanan, buah-buahan, serta minuman bergizi. Yang harus orang tua berikan juga adalah asupan bagi jiwanya. Berikan mereka inspirasi-inspirasi melalui cerita-cerita berbobot, yang mengisi kehausan jiwa mereka succes story tokoh-tokoh yang penuh semangat, misalnya.

3. Biasakan membaca. Jika perlu, tumbuhkan kebutuhan terhadap bacaan seolah-olah mereka memandang buku layaknya sebuah makanan lezat. Dengan begitu, mereka akan sering menyerap pengetahuan yang terkandung dalam bahan-bahan bacaan tersebut. Anak-anak yang sedari kecil terbiasa membaca akan menyerap, menyaring, mengolah, dan memaknai informasi. Semakin sering mereka membaca buku-buku yang bergizi, teratur, dan baik penuturannya, kemampuan berfikir mereka akan lebih matang dan tertata. Mereka memiliki kerangka berpikir yang kukuh dan rapi. Dasar-dasar kecakapan dan kematangan emosi dipelajari oleh anak melalui buku-buku yang mereka cerna. Sehingga ketika anak menghadapi tantangan, ia mampu mengelola emosinya dengan menggunakan bahan-bahan yang telah tersedia di otaknya. Mengutip pendapat Paul C. Burns, Betty D. Roe & Elinor P Ross dalam buku Teaching Reading in Today’s Elementary Schools. Ada delapan aspek yang bekerja saat kita membaca, yaitu sensori, persepsi, sekuensial (tata urutan kerja), pengalaman berpikir, belajar, asosiasi, dan afeksi. Semuanya berjalan berbarengan saat kita membaca.

4. Waktu yang berkualitas bersama anak-anak. Sesibuk apapun kita sebagai orang tua, anak-anak memiliki hak untuk mendapat perhatian. Alokasikan waktu-waktu kita agar tetap bisa bersama anak-anak. Dari kedekatan itu seorang anak dapat merasakan kehangatan, perhatian dan kasih sayang dari orang tua mereka.

5. Hati-hati terhadap televisi. Banyak pengamat yang memandang negatif program-program televisi. Karena itu, jangan bebaskan anak-anak sesuka hati di depan televisi. Bantulah memilihkan program-program yang baik. Sesekali, pantaulah muatan acara yang ditayangkan televisi, jangan ragu untuk melarang anak-anak jika muatannya terlalu dewasa, kasar, mengajarkan kemalasan dan nilai-nilai negatif lainnya.

6. Gunakan kalimat-kalimat positif. Usahakan mencari kata-kata yang bernuansa positif, ketimbang negatif. Selain anak-anak menjadi terbiasa memandang sesuatu dari sisi positif, kalimat-kalimat positif juga terbukti lebih membangkitkan semangat, mengandung optimisme dan percaya diri.

0 komentar:

Posting Komentar